Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sudahlah itu ...

Sudah itu ...

Tak pernah pasti menjemput
Selalu mengikutiku berdampingan
Diselaput mata yang siap dijemput
Menuntun hidup dengan detik dan harapan

Kepastian yang selalu mengambang direlung kira-kira
Aku merasakan bisikannya dilubuk hati
Menakutiku dengan peringatan dan ancaman ada
Meski tak di ujung belati namun tetap menanti


Bila tiba saatnya, tak ada yang bisa menundanya
Sedetikpun dalam sesal
Semuanya terlambat dalam kepastian yang tak nyata
Berhenti dan tertutup apa pun semisal
Tak ada dosa atau pahala

Sendiri dan hening jika tiba saatnya
Bagai berdiri dalam pembaringan abadi
Menutup mata tanpa bersapa
Sedikit tanda namun berhamburan makna

Kematian.

27 Juni 2008
Jakarta. 

Selain Mu,, Tak Ada.

Tiada Yang Lain ...

Berdiri diantara persimpangan yang tak tertuju
Kau ada dan tak pernah tiada
Semakin ku dekat Kau semakin menuju
Aku tak pernah ada namun Kau tetap ada

Nikmatmu menutup segalanya
Aku terbuai dan terentah diantara setiap firmanMu
Kulupakan setiap tabir dalam tutur kitab suci
Kupikir Kau lupa bahwa aku lupa

Ternyata kau tetap menjadi Tuhanku
Diantara yang ada semuanya tiada
Menandakan selain Kamu
Aku akhirnya malu
Dan bersujud ....

Bukan untuk surgamu
Tapi untuk peniadaan yang lain
Selain Mu ... tak ada.

30 Agustus 2009

Kerudung

Prahara hati terbungkus kerudung putih
Menyingkap senyum tanpa pamrih
Buka kerudungmu ya khumairah
Biar kulihat tunggumu yang letih

Tubuh perawanmu lembab beraromah embun
Basah dan merona tanpa sentuhan
Lekukannya menghentikan angan
Menghancurkan imanku dengan perlahan

Terlalu cepat kerudungmu terlepas
Meyakinkan milikku yang terhempas
Sudah kuucap ijab kabul tanpa ampas
Sudah, kau milikku tanpa seretas

Apa artinya kerudungmu kini
Ketika restu berhamburan sejak pagi
Malam menjadi keheningan legi
Menunggu kau segera merintih

Buang jauh kerudungmu
Tak akan kubiarkan mengekangmu
Akan kunodai jamuanmu
Dengan segala kelemahanku

Kerudungmu kini aku
Menjadi penghias senyumanmu
Menjadi ketenangan dimalammu
Dan menjadi matahari dipagimu

Malam ini akan kutanami harapan kita
Sedikit akan terasa sakit dipertama
Namun akan bermakna untuk semua
Kita kabarkan buahnya kelak untuk dunia
Dan hadirkan sebuah nama untuknya

Maaf ...
Kerudungmu aku lepaskan
Busanamu aku hempaskan
Kututup matamu dengan ke
Dan ku sucikan kau perawan

Biarkan kerudungmu sejenak beristirahat
Sekedar untuk dua puluh menit
Menoreh cinta dengan cepat
Setelah itu kau gunakan lagi dengan tepat
Kerudungmu ...
Dimalam pertama

Sederhana Saja ,,

Orang menyebutnya cinta
Namun aku tak percaya
Sebuah sajak nyata
Tertulis dengan gerak dan teryata

Sederhana saja...
Kuingin hancurkan kaidah tertata
Menuntun tanpa kira dan rencana
Dan berakhir dipelaminan nyata
Setelah harapan tentang bahagia itu ada

Sederhana saja...
Kuingin meniadakan cerita
Ocehan tentang keharusan cinta
Sekedar menciptakan serasih purna
Mengais kisah yang dulu tiada


Sederhana saja ...
Tak usah berpikir tentang istana
Bergubuk dibawah langit semesta saja
Cukup kenyang bersama tumbuhan dan air hujan bumiNya
Bahagia itu ada dihati dan antara
Bukan berlian atau emas himalaya

Sederhana saja ...
Tak usah menyebutnya Cinta
Sebut saja itu rasa
Mengalir tanpa asah dan tanda
Menghadirkan gerak sebagai penanda
Tercipta langsung dariNya
Meski kita selalu bertanya


Jadikan cinta seperti ...
Kopi disore hari dan susu dipagi hari
Tatkala senyuman mengumbar bahagia
Setelah semalam kita bersama

Sederhana saja ...
Cinta itu dikau
Sayang ...
Bukan lisan dan kata
Tapi setitik rasa
Sedalam terasa
Mengisi segala yang selalu ada
Bersama hingga cerita tiada 


30 Agustus 2009
Diponegoro 16A, Jakarta. 
Rully Amri

Cerita Kita ,,,

Kukira sudah engkau ...
ternyata masih bukan
terlalu cepat untuk bisa
menjadi "engkau"
yang sudah tidak "bukan" lagi ...

Kita dicaci seperti anjing
dan dihina haram seperti babi
seakan kita tak berwajah
padahal kita punya rasa ...

Kita pernah bicara tentang
anak kecil yang ruas-ruas wajahnya
mencuri paras cantikmu dan keegoanku ..
berteriak dengan sayupan mama dan papa ...
Sembari menegaskan mimpi yang menyata ..

Kita pernah berselimutkan semangat
bercita-cita tentang kesederhanan hakiki ...
berbicara dengan rasionalitas
namun menenangkannya dengan hati ...

aku kira "sudalah" engkau ...
tapi ternyata "bukan"
masih ada jalan dan tapakan yang selanjutnya

mari buka mata dan melangkahkan kaki

sampai bertemu kelak

ketika kita sudah sadar
bahwa mimpi ternyata' tak selalu menjadi kenyataan ...


Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Maret 2015

Sudahlah itu ...

Sudah itu ...

Tak pernah pasti menjemput
Selalu mengikutiku berdampingan
Diselaput mata yang siap dijemput
Menuntun hidup dengan detik dan harapan

Kepastian yang selalu mengambang direlung kira-kira
Aku merasakan bisikannya dilubuk hati
Menakutiku dengan peringatan dan ancaman ada
Meski tak di ujung belati namun tetap menanti


Bila tiba saatnya, tak ada yang bisa menundanya
Sedetikpun dalam sesal
Semuanya terlambat dalam kepastian yang tak nyata
Berhenti dan tertutup apa pun semisal
Tak ada dosa atau pahala

Sendiri dan hening jika tiba saatnya
Bagai berdiri dalam pembaringan abadi
Menutup mata tanpa bersapa
Sedikit tanda namun berhamburan makna

Kematian.

27 Juni 2008
Jakarta. 

Selain Mu,, Tak Ada.

Tiada Yang Lain ...

Berdiri diantara persimpangan yang tak tertuju
Kau ada dan tak pernah tiada
Semakin ku dekat Kau semakin menuju
Aku tak pernah ada namun Kau tetap ada

Nikmatmu menutup segalanya
Aku terbuai dan terentah diantara setiap firmanMu
Kulupakan setiap tabir dalam tutur kitab suci
Kupikir Kau lupa bahwa aku lupa

Ternyata kau tetap menjadi Tuhanku
Diantara yang ada semuanya tiada
Menandakan selain Kamu
Aku akhirnya malu
Dan bersujud ....

Bukan untuk surgamu
Tapi untuk peniadaan yang lain
Selain Mu ... tak ada.

30 Agustus 2009

Kerudung

Prahara hati terbungkus kerudung putih
Menyingkap senyum tanpa pamrih
Buka kerudungmu ya khumairah
Biar kulihat tunggumu yang letih

Tubuh perawanmu lembab beraromah embun
Basah dan merona tanpa sentuhan
Lekukannya menghentikan angan
Menghancurkan imanku dengan perlahan

Terlalu cepat kerudungmu terlepas
Meyakinkan milikku yang terhempas
Sudah kuucap ijab kabul tanpa ampas
Sudah, kau milikku tanpa seretas

Apa artinya kerudungmu kini
Ketika restu berhamburan sejak pagi
Malam menjadi keheningan legi
Menunggu kau segera merintih

Buang jauh kerudungmu
Tak akan kubiarkan mengekangmu
Akan kunodai jamuanmu
Dengan segala kelemahanku

Kerudungmu kini aku
Menjadi penghias senyumanmu
Menjadi ketenangan dimalammu
Dan menjadi matahari dipagimu

Malam ini akan kutanami harapan kita
Sedikit akan terasa sakit dipertama
Namun akan bermakna untuk semua
Kita kabarkan buahnya kelak untuk dunia
Dan hadirkan sebuah nama untuknya

Maaf ...
Kerudungmu aku lepaskan
Busanamu aku hempaskan
Kututup matamu dengan ke
Dan ku sucikan kau perawan

Biarkan kerudungmu sejenak beristirahat
Sekedar untuk dua puluh menit
Menoreh cinta dengan cepat
Setelah itu kau gunakan lagi dengan tepat
Kerudungmu ...
Dimalam pertama

Rabu, 18 Maret 2015

Sederhana Saja ,,

Orang menyebutnya cinta
Namun aku tak percaya
Sebuah sajak nyata
Tertulis dengan gerak dan teryata

Sederhana saja...
Kuingin hancurkan kaidah tertata
Menuntun tanpa kira dan rencana
Dan berakhir dipelaminan nyata
Setelah harapan tentang bahagia itu ada

Sederhana saja...
Kuingin meniadakan cerita
Ocehan tentang keharusan cinta
Sekedar menciptakan serasih purna
Mengais kisah yang dulu tiada


Sederhana saja ...
Tak usah berpikir tentang istana
Bergubuk dibawah langit semesta saja
Cukup kenyang bersama tumbuhan dan air hujan bumiNya
Bahagia itu ada dihati dan antara
Bukan berlian atau emas himalaya

Sederhana saja ...
Tak usah menyebutnya Cinta
Sebut saja itu rasa
Mengalir tanpa asah dan tanda
Menghadirkan gerak sebagai penanda
Tercipta langsung dariNya
Meski kita selalu bertanya


Jadikan cinta seperti ...
Kopi disore hari dan susu dipagi hari
Tatkala senyuman mengumbar bahagia
Setelah semalam kita bersama

Sederhana saja ...
Cinta itu dikau
Sayang ...
Bukan lisan dan kata
Tapi setitik rasa
Sedalam terasa
Mengisi segala yang selalu ada
Bersama hingga cerita tiada 


30 Agustus 2009
Diponegoro 16A, Jakarta. 
Rully Amri

Cerita Kita ,,,

Kukira sudah engkau ...
ternyata masih bukan
terlalu cepat untuk bisa
menjadi "engkau"
yang sudah tidak "bukan" lagi ...

Kita dicaci seperti anjing
dan dihina haram seperti babi
seakan kita tak berwajah
padahal kita punya rasa ...

Kita pernah bicara tentang
anak kecil yang ruas-ruas wajahnya
mencuri paras cantikmu dan keegoanku ..
berteriak dengan sayupan mama dan papa ...
Sembari menegaskan mimpi yang menyata ..

Kita pernah berselimutkan semangat
bercita-cita tentang kesederhanan hakiki ...
berbicara dengan rasionalitas
namun menenangkannya dengan hati ...

aku kira "sudalah" engkau ...
tapi ternyata "bukan"
masih ada jalan dan tapakan yang selanjutnya

mari buka mata dan melangkahkan kaki

sampai bertemu kelak

ketika kita sudah sadar
bahwa mimpi ternyata' tak selalu menjadi kenyataan ...