Sudahlah itu ...

Sudah itu ...

Tak pernah pasti menjemput
Selalu mengikutiku berdampingan
Diselaput mata yang siap dijemput
Menuntun hidup dengan detik dan harapan

Kepastian yang selalu mengambang direlung kira-kira
Aku merasakan bisikannya dilubuk hati
Menakutiku dengan peringatan dan ancaman ada
Meski tak di ujung belati namun tetap menanti


Bila tiba saatnya, tak ada yang bisa menundanya
Sedetikpun dalam sesal
Semuanya terlambat dalam kepastian yang tak nyata
Berhenti dan tertutup apa pun semisal
Tak ada dosa atau pahala

Sendiri dan hening jika tiba saatnya
Bagai berdiri dalam pembaringan abadi
Menutup mata tanpa bersapa
Sedikit tanda namun berhamburan makna

Kematian.

27 Juni 2008
Jakarta. 

Begitulah Malaysia, Dan Nasionalisme Kita.

(tulisan ini ditulis saat Malaysia mengklaim Tarian Reok sebagai produk kebudayaan mereka, dan sudah dipublikasikan di salah satu media Nasional)
 
Begitulah Malaysia. Setelah berpuluh tahun lalu membuat Indonesia merajuk dan keluar dari PBB. Sekarang melakukan klaim terhadap beberapa tarian, yang belakangan membuat geger hampir seluruh masyarakat Indonesia. Ini bukan kali pertama. Sebelum tari pendet. Ada beberapa lagu dan juga ornament kebudayaan yang diklaim Malaysia. Mereka beralasan bahwa budaya tersebut berakar dari kebudayan melayu yang dahulu kala belum dibatasi oleh administrasi kenegaraan. Melayu sekedar spirit sukuisme dan tradisi saja. Akar ini yang membuat Malaysia melakukan klaim. Ada tradisi hindunisme yang mengakar di sejarah Negara-bangsa ini. Sehingga beberapa ornament kebudayaan hampir mirip bahkan sulit memang di bedakan antara Negara Indonesia dan Negara Malaysia.

Malaysia tidak sepenuhnya salah dalam hal klaim dengan argumentasi seperti itu. Kita ranah serumpun yang memiliki latar kebudayaan yang sama. Hampir tak ada bedanya. Bicara kebudayaan memang sulit ditegaskan dibawah spirit kenegaraan. Kebudayaan berakar dari nilai leluhur yang menspirit tradisi dan nilai-nilai. William H. Haviland berisalah bahwa Kebudayaan terkait seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima oleh semua masyarakat. Landasan ini sulit membatasi produk kebudayaan sebagai klaim kreativitas segolongan orang saja. Ini kerja banyak orang, melintasi batasan administrative formal dan sulit ditakar menggunakan klaim.

Persoalan yang hadir memang, lebih disebabkan oleh semerbak komersialisasi kebudayaan yang di canangkan Kapitalisme sekitar satu abad terakhir. Terlebih lagi ketika adanya Undang-undang hak paten. Sekonyong-konyong setiap budaya harus punya hak patennya sendiri-sendiri. Gunanya memang lebih pada memenuhi halaman depan majalah iklan pariwisata dunia. Jika sekedar spirit nasionalisme, buat apa kita cape-cape berteriak tentang ke-brengsekan Malaysia yang mengklaim ? wong kita juga banyak menggunakan ornament kebudayaan orang yang skrang mentradisi dan blakangan, sebagian besar dari kita, sudah merasa memilikinya. Misalnya, Kuba mesjid ala mesir, jubah putih panjang ala Arabic, baju koko ala cina dan beduk mesjid sebagai tanda akan adzan ala cina. Masalahnya memang, kita tidak meletakkannya sebagai iklan pariwisata di halaman depan majalah pariwisata. Tapi bukankah itu ornament kebudayaan yang juga punya nilai ditengah masyarakat ?

Tidak sepenuhnya salah, bukan berarti Malaysia sudah spenuhnya benar. Dengan mengiklankan atau melakukan klaim terhadap beberapa produk kebudayaan yang sudah menjadi produk unggulan Indonesia, mereka melakukan pencaplokan brand agar dengan mudah mengalahkan lawan bisnisnya dengan cepat. Dalam logika pasar ini sangat mlanggar etika. Dengan cara menggampangkan langkah bisnis. Mengambil produk-produk jadi milik tetangga, untuk dipromosikan agar bisa mendapatkan keuntungan dari beberapa produk unggulan tersebut. Namun memang langkah ini dalam bisnis sulit di kenakan sangsi formal. Yang bisa dilakukan antar kopetitor adalah meningkatkan kualitas produk masing-masing agar bisa bersaing dengan sehat dipasaran.

Maka menjadi salah kaprah-lah kita jika klaim Malaysia atas beberapa ornament kebudayaan, kita tangapi sebagai persoalan ideologis. Atau penghinaan terhadap Negara kesatuan Republik yang kita cintai ini. Itu sekedar upaya komersialisasi pariwisata yang sudah kita lakukan jauh setelah Negara ini merdeka. Sudah lama tahapan ini kita lakukan. Yang sekarang baru dilakuakn oleh Negara serumpun kita Malaysia. Toh juga Negara serumpun ini, tidak cukup banyak kekuatan, untuk bisa merebut pasar pariwisata kita. Jika, kita mau meningkatkan segala kualitas produk kebudayaan yang selama ini kita miliki.

Mari kita sibukkan diri ini dengan meningkatkan kualitas produk kudayaan kita, agar lebih disukai secara Internasional dan itu bisa mendatangkan pendapatan yang lebih. Selain nilai komersialisasi pelestarian kebudayaan juga menghadirkan karakteristik bangsa. Buat apa kita maki-maki Malaysia yang “katanya” mengklaim kebudayaan kita, sedangkan kita sendiri tidak bisa mengilhami karakteristik budaya kita sendiri. Buktinya, anasir asing masih menyelinap di sendi-sendi kebijakan dalam negeri kita.

Berhentilah memaki kreatifitas orang lain. Hingga kita tidak diklaim Negara reaktif revolusioner … sebaiknya kita menciptakan kretivitas baru dengan spirit kebudayaan yang ada dan senantiasa mengagungkan spirit nasionalisme subtansial … tidak reaktif, heroistik, euforia dan sediktl memalukan. Jadilah bangsa yang besar yang juga berkarakter besar. 

28 Agustus 2009
Jakarta,

Selain Mu,, Tak Ada.

Tiada Yang Lain ...

Berdiri diantara persimpangan yang tak tertuju
Kau ada dan tak pernah tiada
Semakin ku dekat Kau semakin menuju
Aku tak pernah ada namun Kau tetap ada

Nikmatmu menutup segalanya
Aku terbuai dan terentah diantara setiap firmanMu
Kulupakan setiap tabir dalam tutur kitab suci
Kupikir Kau lupa bahwa aku lupa

Ternyata kau tetap menjadi Tuhanku
Diantara yang ada semuanya tiada
Menandakan selain Kamu
Aku akhirnya malu
Dan bersujud ....

Bukan untuk surgamu
Tapi untuk peniadaan yang lain
Selain Mu ... tak ada.

30 Agustus 2009

..di Jakarta

Seluruh pujangga dan biduan sudah mengambarkan kota ini dengan berbagai rangkaian kata dan lirik yang beragam.

Ada yang mengambarkannya sebagai sebuah lingkup yang sempit dan sesak. Tapi ada juga yang menjadikan kota ini sebagai sebuah mimpi yang tak tergapai. Beragam memang.

Aku sebagian kecil diantara bejibun tafsir yang ada. Untuk memutuskan tinggal di kota ini, aku meninggalkan banyak hal di sana. Mulai dari udara tropis yang menyemai kalbu setiap pagi dan malamnya, hingga masa kecil yang tak terhingga indahnya. Namun ini sudah putusan. Kota ini, bagiku, sekedar tempat lari. Dari singgap yang tak terungkap dengan kata mu pun lirik biduan. Dari berbagai peristiwa dami peristiwa yang terjadi detik demi detik yang berlalu.

Seluruh peristiwa yang terjadi tentang banyak hal. Mulai dari mimpi, tangisan, kebahagiaan. Aku lari bukan karena semuanya mengejarku. Bukan karena semuanya terlalu buruk. Aku lari karena di sana tak ada tempat untuk mengejar. Tak ada tempat untuk berlari lebih cepat. Lebih jauh dan lebih tinggi.

Kota ini punya banyak lanskap. Tentang benderangnya lampu mercuri di tengah malam. Dan teriknya sang surya di tengah hari. Tempat betapa peluh tak berarti sudah. Tempat dimana air mata seperti sungai. Dan kebahagian seperti samudra.

Aku menafsir kota ini lebih sederhana dari Iwan Fals dan Khairil Anwar. Sekedar tempat lari.

Kota ini mengajarkanku tentang semangat membara. Dengan cara mencambukku dengan bejibun pesimisme. Kota ini menunjukan kesederhanaan di mata, tapi membisikkan kemewahan di telinga. Kota ini menawarkan cinta di hati, tapi menyisikkan kebencian di pikiran.

Aku putuskan untuk lari ke sini. Untuk merasakan tempat yang kutinggalkan betapa indah. Betapa memanjakan. Ada cinta dan kasih sayang. Ada janji yang tertepati.
Aku akan tetap di sini untuk kembali ke sana .... Ke tempat aku tinggalkan ....

Jakarta
03 September, 2009

Kerudung

Prahara hati terbungkus kerudung putih
Menyingkap senyum tanpa pamrih
Buka kerudungmu ya khumairah
Biar kulihat tunggumu yang letih

Tubuh perawanmu lembab beraromah embun
Basah dan merona tanpa sentuhan
Lekukannya menghentikan angan
Menghancurkan imanku dengan perlahan

Terlalu cepat kerudungmu terlepas
Meyakinkan milikku yang terhempas
Sudah kuucap ijab kabul tanpa ampas
Sudah, kau milikku tanpa seretas

Apa artinya kerudungmu kini
Ketika restu berhamburan sejak pagi
Malam menjadi keheningan legi
Menunggu kau segera merintih

Buang jauh kerudungmu
Tak akan kubiarkan mengekangmu
Akan kunodai jamuanmu
Dengan segala kelemahanku

Kerudungmu kini aku
Menjadi penghias senyumanmu
Menjadi ketenangan dimalammu
Dan menjadi matahari dipagimu

Malam ini akan kutanami harapan kita
Sedikit akan terasa sakit dipertama
Namun akan bermakna untuk semua
Kita kabarkan buahnya kelak untuk dunia
Dan hadirkan sebuah nama untuknya

Maaf ...
Kerudungmu aku lepaskan
Busanamu aku hempaskan
Kututup matamu dengan ke
Dan ku sucikan kau perawan

Biarkan kerudungmu sejenak beristirahat
Sekedar untuk dua puluh menit
Menoreh cinta dengan cepat
Setelah itu kau gunakan lagi dengan tepat
Kerudungmu ...
Dimalam pertama

Kamis, 19 Maret 2015

Sudahlah itu ...

Sudah itu ...

Tak pernah pasti menjemput
Selalu mengikutiku berdampingan
Diselaput mata yang siap dijemput
Menuntun hidup dengan detik dan harapan

Kepastian yang selalu mengambang direlung kira-kira
Aku merasakan bisikannya dilubuk hati
Menakutiku dengan peringatan dan ancaman ada
Meski tak di ujung belati namun tetap menanti


Bila tiba saatnya, tak ada yang bisa menundanya
Sedetikpun dalam sesal
Semuanya terlambat dalam kepastian yang tak nyata
Berhenti dan tertutup apa pun semisal
Tak ada dosa atau pahala

Sendiri dan hening jika tiba saatnya
Bagai berdiri dalam pembaringan abadi
Menutup mata tanpa bersapa
Sedikit tanda namun berhamburan makna

Kematian.

27 Juni 2008
Jakarta. 

Begitulah Malaysia, Dan Nasionalisme Kita.

(tulisan ini ditulis saat Malaysia mengklaim Tarian Reok sebagai produk kebudayaan mereka, dan sudah dipublikasikan di salah satu media Nasional)
 
Begitulah Malaysia. Setelah berpuluh tahun lalu membuat Indonesia merajuk dan keluar dari PBB. Sekarang melakukan klaim terhadap beberapa tarian, yang belakangan membuat geger hampir seluruh masyarakat Indonesia. Ini bukan kali pertama. Sebelum tari pendet. Ada beberapa lagu dan juga ornament kebudayaan yang diklaim Malaysia. Mereka beralasan bahwa budaya tersebut berakar dari kebudayan melayu yang dahulu kala belum dibatasi oleh administrasi kenegaraan. Melayu sekedar spirit sukuisme dan tradisi saja. Akar ini yang membuat Malaysia melakukan klaim. Ada tradisi hindunisme yang mengakar di sejarah Negara-bangsa ini. Sehingga beberapa ornament kebudayaan hampir mirip bahkan sulit memang di bedakan antara Negara Indonesia dan Negara Malaysia.

Malaysia tidak sepenuhnya salah dalam hal klaim dengan argumentasi seperti itu. Kita ranah serumpun yang memiliki latar kebudayaan yang sama. Hampir tak ada bedanya. Bicara kebudayaan memang sulit ditegaskan dibawah spirit kenegaraan. Kebudayaan berakar dari nilai leluhur yang menspirit tradisi dan nilai-nilai. William H. Haviland berisalah bahwa Kebudayaan terkait seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima oleh semua masyarakat. Landasan ini sulit membatasi produk kebudayaan sebagai klaim kreativitas segolongan orang saja. Ini kerja banyak orang, melintasi batasan administrative formal dan sulit ditakar menggunakan klaim.

Persoalan yang hadir memang, lebih disebabkan oleh semerbak komersialisasi kebudayaan yang di canangkan Kapitalisme sekitar satu abad terakhir. Terlebih lagi ketika adanya Undang-undang hak paten. Sekonyong-konyong setiap budaya harus punya hak patennya sendiri-sendiri. Gunanya memang lebih pada memenuhi halaman depan majalah iklan pariwisata dunia. Jika sekedar spirit nasionalisme, buat apa kita cape-cape berteriak tentang ke-brengsekan Malaysia yang mengklaim ? wong kita juga banyak menggunakan ornament kebudayaan orang yang skrang mentradisi dan blakangan, sebagian besar dari kita, sudah merasa memilikinya. Misalnya, Kuba mesjid ala mesir, jubah putih panjang ala Arabic, baju koko ala cina dan beduk mesjid sebagai tanda akan adzan ala cina. Masalahnya memang, kita tidak meletakkannya sebagai iklan pariwisata di halaman depan majalah pariwisata. Tapi bukankah itu ornament kebudayaan yang juga punya nilai ditengah masyarakat ?

Tidak sepenuhnya salah, bukan berarti Malaysia sudah spenuhnya benar. Dengan mengiklankan atau melakukan klaim terhadap beberapa produk kebudayaan yang sudah menjadi produk unggulan Indonesia, mereka melakukan pencaplokan brand agar dengan mudah mengalahkan lawan bisnisnya dengan cepat. Dalam logika pasar ini sangat mlanggar etika. Dengan cara menggampangkan langkah bisnis. Mengambil produk-produk jadi milik tetangga, untuk dipromosikan agar bisa mendapatkan keuntungan dari beberapa produk unggulan tersebut. Namun memang langkah ini dalam bisnis sulit di kenakan sangsi formal. Yang bisa dilakukan antar kopetitor adalah meningkatkan kualitas produk masing-masing agar bisa bersaing dengan sehat dipasaran.

Maka menjadi salah kaprah-lah kita jika klaim Malaysia atas beberapa ornament kebudayaan, kita tangapi sebagai persoalan ideologis. Atau penghinaan terhadap Negara kesatuan Republik yang kita cintai ini. Itu sekedar upaya komersialisasi pariwisata yang sudah kita lakukan jauh setelah Negara ini merdeka. Sudah lama tahapan ini kita lakukan. Yang sekarang baru dilakuakn oleh Negara serumpun kita Malaysia. Toh juga Negara serumpun ini, tidak cukup banyak kekuatan, untuk bisa merebut pasar pariwisata kita. Jika, kita mau meningkatkan segala kualitas produk kebudayaan yang selama ini kita miliki.

Mari kita sibukkan diri ini dengan meningkatkan kualitas produk kudayaan kita, agar lebih disukai secara Internasional dan itu bisa mendatangkan pendapatan yang lebih. Selain nilai komersialisasi pelestarian kebudayaan juga menghadirkan karakteristik bangsa. Buat apa kita maki-maki Malaysia yang “katanya” mengklaim kebudayaan kita, sedangkan kita sendiri tidak bisa mengilhami karakteristik budaya kita sendiri. Buktinya, anasir asing masih menyelinap di sendi-sendi kebijakan dalam negeri kita.

Berhentilah memaki kreatifitas orang lain. Hingga kita tidak diklaim Negara reaktif revolusioner … sebaiknya kita menciptakan kretivitas baru dengan spirit kebudayaan yang ada dan senantiasa mengagungkan spirit nasionalisme subtansial … tidak reaktif, heroistik, euforia dan sediktl memalukan. Jadilah bangsa yang besar yang juga berkarakter besar. 

28 Agustus 2009
Jakarta,

Selain Mu,, Tak Ada.

Tiada Yang Lain ...

Berdiri diantara persimpangan yang tak tertuju
Kau ada dan tak pernah tiada
Semakin ku dekat Kau semakin menuju
Aku tak pernah ada namun Kau tetap ada

Nikmatmu menutup segalanya
Aku terbuai dan terentah diantara setiap firmanMu
Kulupakan setiap tabir dalam tutur kitab suci
Kupikir Kau lupa bahwa aku lupa

Ternyata kau tetap menjadi Tuhanku
Diantara yang ada semuanya tiada
Menandakan selain Kamu
Aku akhirnya malu
Dan bersujud ....

Bukan untuk surgamu
Tapi untuk peniadaan yang lain
Selain Mu ... tak ada.

30 Agustus 2009

..di Jakarta

Seluruh pujangga dan biduan sudah mengambarkan kota ini dengan berbagai rangkaian kata dan lirik yang beragam.

Ada yang mengambarkannya sebagai sebuah lingkup yang sempit dan sesak. Tapi ada juga yang menjadikan kota ini sebagai sebuah mimpi yang tak tergapai. Beragam memang.

Aku sebagian kecil diantara bejibun tafsir yang ada. Untuk memutuskan tinggal di kota ini, aku meninggalkan banyak hal di sana. Mulai dari udara tropis yang menyemai kalbu setiap pagi dan malamnya, hingga masa kecil yang tak terhingga indahnya. Namun ini sudah putusan. Kota ini, bagiku, sekedar tempat lari. Dari singgap yang tak terungkap dengan kata mu pun lirik biduan. Dari berbagai peristiwa dami peristiwa yang terjadi detik demi detik yang berlalu.

Seluruh peristiwa yang terjadi tentang banyak hal. Mulai dari mimpi, tangisan, kebahagiaan. Aku lari bukan karena semuanya mengejarku. Bukan karena semuanya terlalu buruk. Aku lari karena di sana tak ada tempat untuk mengejar. Tak ada tempat untuk berlari lebih cepat. Lebih jauh dan lebih tinggi.

Kota ini punya banyak lanskap. Tentang benderangnya lampu mercuri di tengah malam. Dan teriknya sang surya di tengah hari. Tempat betapa peluh tak berarti sudah. Tempat dimana air mata seperti sungai. Dan kebahagian seperti samudra.

Aku menafsir kota ini lebih sederhana dari Iwan Fals dan Khairil Anwar. Sekedar tempat lari.

Kota ini mengajarkanku tentang semangat membara. Dengan cara mencambukku dengan bejibun pesimisme. Kota ini menunjukan kesederhanaan di mata, tapi membisikkan kemewahan di telinga. Kota ini menawarkan cinta di hati, tapi menyisikkan kebencian di pikiran.

Aku putuskan untuk lari ke sini. Untuk merasakan tempat yang kutinggalkan betapa indah. Betapa memanjakan. Ada cinta dan kasih sayang. Ada janji yang tertepati.
Aku akan tetap di sini untuk kembali ke sana .... Ke tempat aku tinggalkan ....

Jakarta
03 September, 2009

Kerudung

Prahara hati terbungkus kerudung putih
Menyingkap senyum tanpa pamrih
Buka kerudungmu ya khumairah
Biar kulihat tunggumu yang letih

Tubuh perawanmu lembab beraromah embun
Basah dan merona tanpa sentuhan
Lekukannya menghentikan angan
Menghancurkan imanku dengan perlahan

Terlalu cepat kerudungmu terlepas
Meyakinkan milikku yang terhempas
Sudah kuucap ijab kabul tanpa ampas
Sudah, kau milikku tanpa seretas

Apa artinya kerudungmu kini
Ketika restu berhamburan sejak pagi
Malam menjadi keheningan legi
Menunggu kau segera merintih

Buang jauh kerudungmu
Tak akan kubiarkan mengekangmu
Akan kunodai jamuanmu
Dengan segala kelemahanku

Kerudungmu kini aku
Menjadi penghias senyumanmu
Menjadi ketenangan dimalammu
Dan menjadi matahari dipagimu

Malam ini akan kutanami harapan kita
Sedikit akan terasa sakit dipertama
Namun akan bermakna untuk semua
Kita kabarkan buahnya kelak untuk dunia
Dan hadirkan sebuah nama untuknya

Maaf ...
Kerudungmu aku lepaskan
Busanamu aku hempaskan
Kututup matamu dengan ke
Dan ku sucikan kau perawan

Biarkan kerudungmu sejenak beristirahat
Sekedar untuk dua puluh menit
Menoreh cinta dengan cepat
Setelah itu kau gunakan lagi dengan tepat
Kerudungmu ...
Dimalam pertama